doni wijayanto May 25, 2015
dreamstime.com/arsip

Sebagai seorang in house lawyer, terdapat keunggulan yang secara nyata dapat meningkatkan prosedur dan proses kerja, demikian menurut Cara Bradley, yang merupakan Deputy General Counsel dari Xylem Inc. Ditambahkan juga oleh Suchitra Narayen, yang menjabat sebagai vice-president dan associate general counsel dari Oracle Corp yang mengatakan bahwa corporate legal department seharusnya bertanya kepada dirinya sendiri tentang “kesuksesan seperti apa untuk departemen kita”. Menurutnya dengan menggunakan prinsip lean six sigma, maka dapat dipergunakan untuk mengukur kinerja departemen.

Hal itu diungkapkan oleh Bradley dan Narayen saat menjadi pembicara diskusi panel tentang penerapan prinsip lean six sigma untuk corporate legal departments pada pertemuan musim semi American Bar Association’s Business Law Section, April 2015 lalu, sebagaimana dikutip dari bol.bna.com.

Narayen berpendapat bahwa six sigma adalah seperangkat tools yang dapat dipergunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan proses kerjanya. Hal ini pada awalnya dikembangkan untuk digunakan pada perusahaan manufaktur dalam rangka meningkatkan kualitas hasil produknya dengan menemukan dan menghilangkan kesalahan. “Kualitas adalah hal yang penting dalam six sigma”, “six sigma mempertimbangkan tentang bagaimana “seseorang itu seharusnya melakukan sesuatu” hingga kemudian “memperoleh konsensus siapa yang akan melakukannya”. “Anda dapat saja melakukan prosesnya, namun anda harus mengetahui siapa pihak yang memperoleh legitimasi untuk melakukannnya”, kata Narayen

Sementara itu menurut Rafael Zahralddin-Aravena, yang merupakan founding shareholder dan chair dari National Commercial Bankruptcy and Restructuring Practice di Elliot Greenleaf berpendapat bahwa six sigma adalah tentang bagaimana seseorang dapat menyempurnakan hasil produknya.

Kemudian Narayen memberikan contoh yaitu seorang senior eksekutif di perusahaan yang meminta untuk dibuatkan draft kontrak kepada in house counsel di kantornya. Senior eksekutif ini mengharapkan bahwa kontrak akan diselesaikan saat dia kembali dari makan siang, namun yang terjadi adalah saat in house counsel melakukan draft kontrak kemudian dia menyadari bahwa ternyata banyak pertanyaan tentang kontrak itu yang perlu memperoleh jawaban dan dia tidak memperoleh jawabannya dari pihak terkait. Namun yang terjadi adalah draft kontrak itu tidak dapat diselesaikan saat senior eksekutif itu kembali dari makan siang.

Narayen mengharapkan bahwa semua stakeholder yang terkait dalam proses bisnis di perusahaan perlu untuk “berada dalam halaman yang sama”. Caranya dengan meningkatkan komunikasi diantara para pihak yang terlibat dalam proses yang penting dalam manajemen proyek. Thomas Romer, yang merupakan pemegang saham di Brownstein Hyatt Farber Schreck LLP juga sependapat dengan hal ini dan dia menambahkan bahwa penting untuk mengendapkan pokok komunikasi untuk memastikan bahwa stakeholder mengetahui apa yang ingin dicapai. “Semua pengacara adalah juga seorang project manager” kata Romer namun menurutnya juga para pengacara belum menunjukkan hasil yang bagus dan maksimal. Sementara itu Zahralddin-Avarena mengatakan bahwa suatu bagian penting dari manajemen proyek adalah menegaskan tentang bidang pekerjaan. Hal ini berkiblat pada pemenuhan etis dan seharusnya tidak dilakukan tanpa kehadiran pihak klien.
Bukan hanya sekedar melakukan pekerjaan seperti merancang kontrak, pengacara yang bagus sebaiknya mendiskusikan tentang budget dan bagaimana cara memonitornya, melakukan estimasi dan mengetahui setiap batasan tentang pemakaiannya, mempersiapkan dan meninjau kembali saat proyek mendekati batas penyelesaian dalam setiap fasenya atau tugas untuk memastikan hal yang penting dari setiap sumberdaya yang dialokasikan dan juga terkait penempatannya.

Hal ini akan melengkapi legal proses, kata Romer, karena juga menyediakan perkiraan kemungkinan menyangkut manajemen anggaran. Sebagai seorang pengacara maka kita harus mencapai tiga hal penting yaitu waktu, kualitas dan harga. Maka kita akan menjadi tidak jujur jika kita tidak mengatakan kepada klen kita bahwa mereka harus memilih dua hal tersebut. “Ini bukan suatu obat yang mujarab” kata Romer.

Dalam acara itu para panelis juga setuju bahwa menggunakan prinsip six sigma dan meningkatkan manajemen proyek adalah tools yang penting untuk legal department. Tentu saja ini akan menjadi suatu bentuk “cinta yang sempurna” bagi legal department dalam menjalankan profesinya.

Do you like this post?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid