redaksi February 25, 2015
commons.wikimedia.org/arsip

Manusia adalah mahluk politik, politik adalah seni, seni adalah produk budaya, dan sebagai mahluk yang berbudaya manusia mempunyai tata nilai tertentu dalam masyarakatnya. Budaya politik ini akan membentuk sistem nilai dan norma tertentu bahkan juga perlawanan terhadapnya.

Nilai ini dirumuskan pula melalui suatu konsensus yang terbentuk di masyarakatnya, maka tak pelak memerlukan kesadaran dan keberpihakan secara politis dalam pembentukannya. Jika sudah tercapai kesepakatan politis maka terbentuklah hukum untuk mengatur masyarakat.

Negara modern umumnya sudah mempunyai sistem politik bernegara dan hukum yang cukup baik, meskipun dalam beberapa hal masih terdapat kelemahan akibat sistem hukum yang diadopsi dari negara lain atau bahkan warisan dari penguasa koloninya.

Seseorang yang belajar ilmu hukum setidaknya akan mengetahui konfigurasi dan sistem politik bernegara, hal ini pula yang melandasi banyak Sarjana Hukum yang berkarir di bidang politik. Barack Obama, Hillary Clinton dan Tony Blair sebagai contoh Sarjana Hukum yang berkarir di dunia politik. Di Indonesia nama Sutan Syahrir sudah kondang dan terekam dalam perjalanan sejarah Republik.

Kekuatiran mengenai kompetitifnya pekerjaan bidang hukum juga dirasakan para Sarjana Hukum di Inggris. Mereka merasa bahwa kompetisi kerja di dunia hukum yang sekarang ini yang bahkan sudah terbentuk menjadi industri terbilang tinggi. Menurut laporan theguardian.com pada (27/01/2015) hal ini dikarenakan pemotongan anggaran untuk bantuan hukum dan menurunnya trend kejahatan di Inggris. Namun Fakultas Hukum di sana masih tetap berupaya untuk menerima sekitar 20.000 pendaftar setiap tahunnya meskipun lulusannya hanya terserap sekitar 4.500 untuk posisi trainee.

Untungnya kemampuan yang diperoleh selama di Fakultas Hukum dapat diterapkan di tempat lain. Banyak yang berkata bahwa mereka menempuh studi di Fakultas Hukum karena dorongan akan keadilan sosial dan keinginan melayani masyarakat, hal itu merupakan suatu nilai positif untuk berkarir di politik.

Megan Carrick, mahasiswa Fakultas Hukum di University of Kent mengatakan bahwa mempelajari hukum akan memberikan ilmu untuk menyusun argumen, berpikir kritis dan menentang kebijakan tertentu, hal hal itulah yang mendukung untuk berkarir di bidang politik.

Berdasarkan data statistik dari latar belakang sosial anggota parlemen di Inggris, 14 % anggotanya pada 2010 adalah pengacara. Jaksa Agung Inggris yang sekarang menjabat, Jeremy Wright juga dahulunya seorang pengacara dan melayani pemerintah sebagai Chief Legal Officer. Dominic Grieve mantan Jaksa Agung juga dahulu berprofesi sebagai pengacara. Bahkan Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris, sempat menghabiskan masa delapan tahun berprofesi sebagai pengacara.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Chuka Umunna yang dahulu bekerja di firma hukum Herbert Smith yang kemudian beralih profesi menjadi penasihat pemerintah di bidang bisnis, inovasi dan keahlian.

Memang lebih banyak aktivitas politik untuk menjadi anggota parlemen daripada aktivitas hukum dan umumnya Sarjana Hukum bekerja sebagai peneliti di parlemen, memberikan dukungan praktis dan pengarahan untuk legislasi. Untuk pekerjaan ini, kegiatan membaca dan memproses data dalam kapasistas besar mutlak dilakukan.

Joe Chambers, yang juga berkuliah di University of Kent mengatakan bahwa dirinya juga mempertimbangkan untuk berkarir di bidang politik. Gelar sarjananya akan membantunya untuk memahami bagaimana aturan hukum diproses serta diterbitkan dan bukan sekadar aturan dan prinsip belaka. “Membaca aturan hukum mengajarkanku untuk memahami bagaimana hukum itu dirumuskan, diterjemahkan dan diterapkan” Kata Joe.

Belajar hukum bukan hanya tentang bagaimana hukum itu, namun juga termasuk analisa kritis dan juga berpikir tentang bagaimana hal yang seharusnya. Hukum membantu mengembangkan kemampuan untuk melihat dari dua sisi argumen, dalam kaitannya untuk memahami sisi yang benar dan sisi yang salah.

Menurut Sam Foulder Hughes, yang merupakan mahasiswa tahun pertama di Unversity of Birmingham dan juga mantan anggota UK youth parliament mengatakan bahwa hukum mengajarkan untuk melihat permasalahan secara obyektif, serta untuk menentang adanya bias ideologi. “Ini adalah kemampuan yang bagus, khususnya dalam berpolitik dimana rasa marah dan takut sebagai pemicu munculnya kebijakan kebijakan” ungkap Sam.

Namun lebih dari itu, sebagai Sarjana Hukum yang berkarir di politik, sebaiknya harus menyadari implikasi yang dilakukan oleh parlemen. Sebaiknya juga mempunyai dibekali dengan kemampuan berbicara di hadapan publik dan merumuskan argumen secara efektif.

Terbuka luas kesempatan kerja pendukung di bidang politik misalnya bekerja di sektor humas, komunikasi, konsultasi atau bahkan pelayanan masyarakat. Profesi bidang hukum adalah profesi yang mulia, dan tidak ada batasan dalam pilihan karir jika mempelajari ilmu hukum.

Do you like this post?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid