redaksi March 15, 2017
Legal tech-quovant.com/arsip

Legal startup juga mulai bergaung di benua Afrika seolah tidak ingin kalah bersaing dengan legal startup di benua lainnya. Mengingat Afrika adalah pasar yang masih baru dan akan terus berkembang, legal startup mulai dilirik oleh konsumen yang memerlukan layanan hukum.

1.Lex Nove

Berbasis di Afrika Selatan, Lex Nove adalah pelopor legal tech di pasarnya yang mulai beroperasi sejak Juli 2105. Platform Lex Nove juga menyediakan layanan untuk menawar harga yang ditetapkan atas layanan hukum yang disediakan. Umumnya penggunanya berasal dari bisnis skala kecil dan menengah.

Pihak Lex Nove menerangkan bahwa selama ini layanan hukum selalu didominasi oleh pengguna dari perusahaan besar atau orang orang kaya. Maka kehadiran Lex Nove akan memberikan kemudahan akses bagi masyarakat terutama dalam menekan biaya dan juga perolehan layanan hukum yang berkualitas.

COO Lex Nove Kyle Torrington menyatakan bahwa visi mereka adalah ingin merubah pola hubungan layanan hukum di Afrika Selatan dengan meningkatkan layanan, transparansi dan kualitas. Hal inilah yang dirasakan perlu oleh pengguna dimana tidak pernah ditemui dalam layanan hukum tradisional.

2.Law Padi

Law Padi didirikan pada Juli 2015 di Nigeria dengan tujuan untuk melayani masyarakat melalui pola tanya jawab seputar hukum untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang hak dan kewajiban hukum dalam kehidupan sehari hari. Layanan ini sendiri digratiskan oleh Law Padi.

Pengguna dapat langsung mengajukan pertanyaan setelah mereka mendaftar di Law Padi, layanan ini sendiri beroperasi 24 jam. Law Padi juga merencanakan untuk memperluas jangkauan layanannya dengan fitur berbasis layanan singkat via sms (short message service), yang menyediakan informasi layanan mereka secara mingguan.

Ibidapo-Obe selaku founder Law Padi berkeinginan startupnya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang memerlukan akses seputar hukum dan juga pengetahuan tentang hak hak yang dimiliki oleh masyarakat. Menurutnya para pengguna dapat berasal dari bermacam kalangan mulai dari masyarakat biasa hingga startup.

 3.Legal Forms

Startup ini didirikan di Nigeria pada April 2016 dengan tujuan untuk memberikan panduan kepada pengguna untuk dapat mengakses proses pendaftaran bisnis melalui Corporate Affairs Commission (CAC).

Pendirian startup ini didasari atas pengalaman pendirinya, Sadiq Okocha yang merasa frustrasi saat mendaftarkan perusahaannya, dimana waktu yang diperlukan terasa lama dan berliku. Dia memerlukan waktu dua bulan hanya untuk dapat mendaftarkan perusahaannya. Maka dari itu setelah pendirian Legal Forms dia berharap startupnya akan dapat memberikan bantuan untuk dapat mengurangi proses yang tidak efektif dan efisien dalam pendaftaran bisnis.

Layanan yang diberikan oleh Legal Forms terbagi atas dua jenis, yaitu layanan gratis dimana pengguna dapat mengunduh dokumen yang diperlukan dan layanan berbayar dimana pengguna akan dibantu oleh startup untuk menyelesaikan seluruh proses pendaftaran.

Legal Forms juga sudah pernah mengikuti pitch di Seedstars World Competition yang diselenggarakan di Lagos, meskipun akhirnya tidak menjadi juara di kompetisi itu.

4.DIY Law

Startup yang didirikan di Nigeria pada Maret 2016 masuk dalam kategori innovating justice hub, artinya starup ini berusaha untuk memberikan inovasi terbaru dalam ekosistem hukum dan juga sebagai penghubung di dalam ekosistemnya.

Awal 2017 startup ini memenangkan 40 ribu dollar AS pada gelaran kontes SME Empowerment Innovation Challenge for East and Wes Africa yang diselenggarakan oleh HiiL. Selain uang, DIY Law juga memperoleh bantuan untuk mengakselerasi startup mereka, akses pendanaan, jaringan dan juga saran para ahli di HiiL.

5.uWakili

Kenya juga tidak mau ketinggalan, uWakili didirikan untuk melayani masyarakat yang membutuhkan jasa hukum secara efektif dan efisien secara digital. Layanan yang diberikannya mulai dari pendirian perusahaan hingga urusan pertanahan.

Baru baru ini uWakili juga telah menjalin kerjasama dengan iHub yang berbasis di Nairobi untuk menyediakan pelatihan hukum secara gratis bagi startup lokal di Kenya. Menurut keterangan dari uWakili, entrepreneur cenderung melihat bahwa urusan hukum dapat saja muncul di hadapan mereka, dan hal ini akan menyebabkan biaya tinggi jika startup harus merekrut pengacara.

Maka melalui kerjasama antara uWakili dan Ihub diharapkan dapat memberikan edukasi serta meminimalkan potensi permasalahan hukum, biaya dan juga akan semakin membuat startup dapat bertumbuh dengan baik.

UWakili juga termasuk salah satu dari tiga puluh enam finalis yang masuk di HiiL Justice Accelerator’s Innovating Justice Challenge, dimana para pesertanya berkesempatan untuk menunjukkan ide dan karya mereka di hadapan juri untuk memperoleh pendanaan senilai 91 ribu dollar AS.

sumber : disrupt-africa.com

Do you like this post?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid