redaksi October 18, 2013
beatrice mtetwa-theguardian.com/arsip

Jika selama ini film bertema hukum mengambil lokasi di Amerika Serikat, dengan suguhan kisah khas hollywood. Film dokumenter ini mengambil lokasi di Zimbabwe, tentu saja kisah film ini memperkaya deretan film dokumenter bertema hukum. Film yang diproduksi oleh Lorie Conway yang berjudul “Beatrice Mtetwa and Rule of Law”, berkisah tentang Beatrice Mtetwa, seorang pengacara perempuan yang memperjuangkan Hak Asasi Manusia disaat rezim Mugabe berkuasa.

Dalam pemberitaan di theguardian (18/06/2013),  Lorie Conway memfilmkan kisah Mtetwa dalam produksi dokumenternya sebagai upaya untuk menunjukkan ketidakadilan yang dilakukan oleh rezim Mugabe. Menurut Lory, dia menyadari bahwa kekuatan Mtetwa dalam penggunaan aturan hukum adalah caranya untuk melawan rezim dan sebagai cara untuk menunjukkan kepada rezim dalam mempertanggungjawabkan kejahatannya. “ketika anda beracara di pengadilan, mereka –rezim Mugabe- akan merespon, dan Mtetwa menekan rezim Mugabe untuk melakukannya”, kata Lory.

Mtetwa tumbuh di sebuah wilayah pertanian di Swaziland dengan hampir 50 saudara. Setiap harinya dia bergegas bangun pada pukul 4 pagi, kemudian bekerja di ladang, menyiapkan sarapan untuk keluarganya, dan tanpa bersepatu dia beranjak ke sekolah yang jarak tempuhnya lebih dari 1 jam. Malamnya dia bertugas menyiapkan makan malam, kemudian mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan setelahnya baru bisa istirahat untuk tidur.

Tahun 2013 ini, Mtetwa berusia 54 tahun dan dia meyakini bahwa masa kecil yang dilalui dengan penuh perjuangan membuatnya menjadi sosok seperti sekarang ini. Pengacara Hak Asasi Manusia di Zimbabwe yang tidak gentar dengan ancaman rezim, dia mendedikasikan hidupnya untuk mendampingi pihak yang ditekan dan dianiaya oleh rezim Mugabe.

Selama masa lebih dari dua dekade, Mtetwa tanpa kenal lelah memperjuangkan ketidakadilan. Pada tahun 2009 Mtetwa menjadi orang Afrika selain Nelson Mandela yang memperoleh penghargaan prestisius yaitu Ludovic-Trarieux International Human Right.

Saat wawancara dengan IBA Global Insight, Mtetwa menceritakan masa kecilnya dimana dia berperilaku “antagonis” dalam berhubungan dengan ayahnya. Ingatannya menuju pada saat dia berusia 6 tahun waktu itu, kemudian bercerita ketika menanyakan mengapa dia dan saudara perempuannya harus berjalan kaki ke sekolah sedangkan saudara lelaki dan sepupunya menaiki sepeda. “Senjata yang saya gunakan waktu itu untuk menyuarakan protes adalah dengan mengempiskan ban sepeda tersebut setiap pagi harinya, dan hal itu bisa menunda perjalanan si pesepeda. Kemudian dari hal itu lalu saya menanyakan tentang hampir segala hal yang tidak saya setuju”, kata Mtetwa.

Selaku anak yang paling tertua dari 50 orang anak, Mtetwa mengambil tugas bertindak selaku ibu bagi saudara-saudaranya, itulah mengapa dia kemudian menjadi mandiri. “Saya selalu merasa tidak takut untuk menantang pihak yang berkuasa jika saya merasa benar” kata Mtetwa. Berpendirian teguh itulah yang menjadikan kekuatan terbesar untuk setiap hal yang saya lakukan.

Mtetwa menjadi perempuan pertama dalam keluarganya yang menempuh studi ke sekolah menengah atas, kemudian dia melanjutkan pendidikan di University of Bostwana and Swaziland untuk menempuh studi bidang hukum. Setelah memperoleh gelar sarjana pada tahun 1981, Mtetwa menikah dengan ahli matematika Zimbabwe dan pindah ke Harare untuk berkarir sebagai jaksa.

Setelah berkarir selama lima tahun, Mtetwa kecewa dengan ketidakadilan yang dia saksikan selama menjalankan tugas. Kemudian dia membuka praktik sendiri, yang selama satu dekade dia melakukan tugas pendampingan Hak Asasi Manusia tanpa ikut campur urusan politik. Sejak tahun 2000, iklim berubah, para pengacara yang beraliansi ke pemerintah akan diberi hal yang menguntungkan sedangkan yang menolak akan diintimidasi, dan diancam untuk dideportasi.

“Melihat keadaan ekonomi di Zimbabwe, kebanyakan perusahaan diintimidasi untuk tidak menggunakan jasa pengacara tertentu dan pengacara diberikan stigma karena keterkaitannya pada garis politik tertentu.” kata Mtetwa. “Hasilnya, terjadi eksodus besar besaran dari klien korporat ke kantor pengacara yang dianggap mempunyai “garis politik yang benar”.

Klien Mtetwa selama lebih dari satu dekade termasuk jajaran politisi kelas atas, aktivis sipil, jurnalis, dan eksekutif bisnis. Mereka muncul pada film dokumenter termasuk bendahara Movement for Democratic Change (MDC), Roy Bennet, yang ditahan dan dipenjara berulang kali, Ketua MDC Harare Elia Mudzuri yang ditahan oleh Polisi dan Gift Phiri, Pemimpin Redaksi koran Daily News berbasis di Harare yang ditahan oleh polisi karena “mempublikasikan berita bohong”.

Dengan begitu banyaknya perkara Mtetwa yang terkait dengan anggota oposisi MDC, dia sangat berhati hati untuk menjaga sikap tetap apolitis. “Sangat sulit untuk saya bahwa MDC lebih baik daripada Zanu-PF dimana mereka tidak punya kesempatan untuk menggunakan kekuatan, kata Mtetwa. “Bagi saya aturan hukum adalah hal yang paling penting karena hampir setiap aspek di negara ini bersandar akan hal itu, dan menghormati prinsip tersebut”.

Pesan dari film dokumenter itu menurut Mtetwa untuk menunjukkan bahwa dengan keberanian dan keinginan, perubahan itu dimungkinkan terjadi. “Jika semua masyarakat Zimbabwe bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama, akan bisa dicapai dalam periode yang singkat, Ucap Mtetwa. “Jika setiap orang menginginkan perubahan, mereka berkewajiban untuk melakukan sesuatu untuk meraih hasil perubahan”.

Klik link ini untuk menyaksikan trailer :

Beatrice Mtetwa and the Rule of Law-Trailer from Lorie Conway on Vimeo.

Do you like this post?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid