redaksi October 19, 2013
variasi kosa kata bahasa indonesia-bahasakita.com/arsip

*Oleh : Doni Wijayanto

Bahasa adalah alat komunikasi hasil cipta, rasa dan karsa untuk mempertautkan kebutuhan sosial antar manusia. Perkembangan peradaban, memungkinkan bahasa untuk beradaptasi dan berevolusi, karena pada dasarnya bahasa adalah kesepakatan komunikasi antar manusia. Jika manusia sudah tidak sepakat mengenai bahasa, maka bahasa itu akan punah dan hilang karena tidak adanya pemakaian bahasa, maka dari itu jika terdapat kata yang terkikis bahkan kemudian hilang dan tidak dipergunakan lagi, nampaknya itu adalah suatu kelaziman dalam berbahasa. Namun juga muncul produksi kata baru untuk memenuhi hasrat sosial manusia dalam berkomunikasi. Seperti halnya bahasa hukum yang dirangkai dalam suatu bentuk peraturan hukum, terkadang mempunyai karakteristik tersendiri. Maka bahasa hukum akan berkembang jika ada perumusan tentang konsep terbaru dan pembaharuan mengenai kosa kata dalam rangka pembentukan aturan hukum.

Seperti kata mikro dan kata kecil, sebagai contoh yaitu pada Undang Undang No. 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro. Ketentuan hukum ini untuk menyokong usaha mikro kecil dan menengah yang telah diundangkan melalui Undang Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah serta Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2013, sebagai aturan pelaksananya. Yang menjadi pertanyaan, mengapa ada kata mikro dan kecil, apakah perbedaan atara kedua kata itu dalam aturan hukum ?

Bahasa hukum memberikan deskripsi seperti diatur pada Undang Undang No. 20 Tahun 2008, Usaha Mikro dijelaskan pada pasal 1 angka 1 “ Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam Undang Undang ini”.

Pasal 1 angka 2 menyebutkan “Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang ini.

Kemudian terletak perbedaannya pada pasal 6 mengenai “Kriteria”, Pasal 6 ayat (1) berbunyi “ Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut  a). memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.0000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau b). memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Pasal 6 ayat (2) berbunyi “Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut  a). memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau b). memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah)

Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberikan deskripsi mengenai kata mikro yaitu mik·ro a 1 kecil; tipis; sempit: ditinjau secara — tempat itu hanya pantas untuk pasar; 2 berkaitan dengan jumlah yang sedikit atau ukuran yg kecil.

Jika maksud pembentuk Undang Undang menyerap kata mikro berasal dari kata bahasa inggris “micro”, maka menurut oxfordictionaries, sebagai adjektif (kata sifat), micro didefinisikan sebagai extremely small. Itu berarti memperoleh peringkat dibawah kecil atau diartikan sebagai sangat kecil atau lebih kecil dari.

Jika sekarang bahasa inggris sedang marak dengan kata “selfie” yang muncul pada tahun 2013 ini hingga kemudian dinobatkan sebagai “word of the year” oleh oxforddictionaries. Selfie diartikan sebagai “a photograph that one has taken of oneself, typically one taken with a smartphone or webcam and uploaded to a social media website”. Kemudian lebih lanjut diberikan keterangan dalam oxfordictionaries “occasional selfies are acceptable, but posting a new picture of yourself every day isn’t necessary”.

Belum ada yang merumuskan kata untuk mempermudah penyebutan “sangat kecil” atau “lebih kecil dari” dalam bahasa Indonesia. Karena tentu saja berbeda artinya antara “kecil” yang didalam KBBI diartikan seperti diatas, dengan kata “sangat kecil” atau “lebih kecil dari”. Maka dari itu perbedaan deskripsi antara KBBI dengan oxfordictionaries dimungkinkan, karena penyematan makna “sangat kecil” atau “lebih kecil dari” belum ditemukan padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk perumusan kata baru. Mungkin ada yang berminat untuk memberikan kata baru untuk hal itu ?

Pantaslah jika “selfie” muncul sebagai bagian dari produk budaya dan perkembangan peradaban manusia.  Perkembangan teknologi informasi dan jejaring media sosial seringkali memunculkan kata baru untuk menyematkan makna tentang sesuatu. Namun bukankah perilaku selfie juga umumnya sekarang mewabah di Indonesia pula, lantas kemudian akankah selfie juga menjadi bagian dan diserap dalam kosa kata bahasa Indonesia ?

Sudah umum didengar kata mikro di Indonesia, maka apakah berarti sudah sepakat dan sepaham jika dalam bahasa Indonesia bahwa kata “mikro” didefinisikan seperti yang ada di dalam KBBI atau perlu diartikan lagi agar sesuai dengan makna dalam bahasa inggris sebagai ukurannya sangat kecil atau ukurannya lebih kecil dari yang kecil?

Karena nampaknya sekarang masih terdengar asing dan cukup sulit untuk diucapkan jika menemukan kondisi seperti ini jika belanja di pasar atau di toko, seperti percakapan antara penjual dengan pembeli berikut ini :

Penjual : “yang ukuran kecil 100 gram, yang ukuran besar 250 gram, mau yang ukuran  apa?

Pembeli : “yang ukuran mikro ada nggak?”

Do you like this post?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid